Mereka beda

Sebelumnya, tulisan ini dibuat tidak bermaksud untuk menyinggung atau mendiskriminasikan pihak-pihak tertentu. Tulisan ini hanyalah sebuah pemikiran yang terbentuk dari sudut pandang sayah sebagai orang awam.

Hari sabtu kemaren, sewaktu di kantor sayah udah janjian dengan teman lama sayah untuk ketemuan malamnya.
Teman sayah ini cewek manis yang kukenal sekitar 5 tahun lalu melalui mIRC (masih pada tau kan??), skarang dia berada di Manado karena pacarnya disini. Singkat kata, akhirnya kami sepakat untuk ketemuan jam 7 di pizza hut Mega Mall.
Sebelum ketemu ma mereka sayah jalan sama mama dan cici sayah untuk belanja keperluan wat lebaran nanti. Jam 7 lewat sayah udah berada di pizza sementara mereka masih di perjalanan. Selagi menunggu sayah baca majalah Femina yang dibeli tadi.
Tiba-tiba ada suara cewek yang menyapa dari belakang sayah "ranny yah?" otomatis sayah balik badan dan senyum "iyah put, duduk." Ga lama di belakang dia nyusul juga 1 cewek yang tomboy dan 1 lagi yang entah gimana sayah mendeskripsikannya. Sayah kenalan, dan ternyata cewek yang tomboy itu salah satu pemain basket yang skul nya ada ikut DBL (deteksi basketball yang diadain Jawa Post). Ada setangkup keheranan yang menyelimuti sayah, dalam hatiku apa benar putri seorang lesbi. Sayah berusaha bersikap sewajarnya dan menyimpan pertanyaan na. Obrolan kami mengalir dengan enak, karena kami membahas usaha yang lagi mereka bangun yaitu warnet, juga ngobrol tentang temen kami yang udah nikah, pokoknya anything lah. Selama ma bersama, mereka udah sayah anggap sebagai adik sayah. Dan di waktu perjalanan menuju parkiran kegundahan sayah terjawab sudah, iyah temen saya itu Lesbi :)

Bagi sayah yang hidup di lingkungan yang masih sewajarnya, agak kaget juga menghadapi realita ini. Kalo mo dibilang banci ada sering ketemu, gay pun pernah liat, tapi kali ini berhadapan dengan lesbian yang notabene berkelamin sama dengan sayah, yang sebelumnya hanya sayah baca sebatas di novel dan kini saya berhadapan langsung. Sayah tidak mendiskriminasikan mereka, sayah tidak menjudge mereka, sayah sadar itu pilihan hidup mereka. Dan kutemukan salah satu faktor mengapa seseorang bisa menjadi lesbian : TRAUMA DENGAN LAKI-LAKI. Trauma dalam hal ini pernah di kecewakan oleh laki-laki, keperawanan direnggut begitu saja dan dicampakkan, dan menemukan sebuah kehangatan cinta dari sesama jenis.
Sangat dilematis, ketika mereka datang antar pulang ke rumah dan bertemu dengan mama, pulangnya mereka mama menegur sayah.
"kamu kalo temenan dengan orang yang baik bakal jadi baik, tar kamu temenan ma mereka kamu jadi lesbi tar." sayah hanya bisa diam aja, sayah juga tidak menyalahkan pandangan mamah soal ini, mamah yang berpikiran konservatif, ketimuran dan menjunjung agama tentunya tidak suka dengan adanya hubungan seperti itu.
Kalo mau jujur, sayah kecewa aja dengan teman saya itu, dia udah ku anggap adik, ingin ku perbaiki dia, tapi emang dunia semakin tua dan semakin edan, hal seperti itu kayaknya sudah lumrah aja dimana-mana. Apakah kiamat sudah dekat??
Sayah menjadi speechless ngomong masalah ini, takut ada yang kesinggung. Tapi sekali lagi itu masalah pribadi mereka dan itu sudah menjadi pilihan hidup mereka. Sayah tidak mau mencampuri terlalu dalam, mereka sudah besar dan bisa menentukan sikap serta pilihan.. Selagi masih bisa memilih kenapa kita tidak memilih jalan sebenarnya, kan di tiap agama sudah dijanjikan oleh Tuhan bagi kita semua umatNYA bahwa kita sudah mempunyai jodoh yang terbaik, dan untuk meraih hal itu mengapa kita tidak meraihnya sesuai dengan koridor yang benar :)


hmm what a life...

Share:

30 comments